Thursday, September 21, 2006

Ketika mereka bertanya siapa yang menjajah kita



Saya tidak bisa membayangkan ternyata suatu saat bisa berdialog dgn orang Jepang seputar penjajahan mereka di negri kita.

Adalah Nimei-san, host parent suami saya pada saat awal datang ke Jepang. Alhamdulilah hubungan baik berlanjut sampai saat ini. Suatu saat Nimei-san mengajak kami sekeluarga menimati keindahan panorama  Seto Ohashi, jembatan yg menghubungkan pulau Shikoku  dengan  propinsi Okayama. Kami asyik mengobrol ttg bermacam-macam hal seputar seikatsu (kehidupan) Indonesia dan Jepang. Tiba-tiba Nimei-san bertanya:

"Ngomong-ngomong Indonesia dijajah oleh siapa ya?"

"Oleh Belanda 350 tahun lamanya." Suami saya menjawab.

"Eee (kaget)...taihen desu ne (berat banget ya)."

"Belanda saja ya?"

"Anoo...tsugiwa nihon desu(ee...setelah itu jepang)." Suami saya menjawab agak pelan.

"Heeeehhhh..."(ekspresinya lebih kaget lagi dan wajahnya terlihat memperlihatkan empati yang dalam)

"Sumimaseeen...sumimaseeeen(maaf)....."katanya dengan suara ditekan  sambil menundukkan badan ke arah kemudi .

"Iiieee (tidak apa-apa)...."kami secara tak sengaja menjawab bersamaan sambil tersenyum bijak.

Yaa apa gunanya kita marah-marah terhadap bangsa Jepang. Karena toh keberadaan kami disini pun atas bantuan Monbukagakusho (kementrian Pendidikan Jepang). Melupakan kekejaman mereka? kini bukan saatnya berbicara ttg dendam atau sakit hati tapi bagaimana bisa berkaca dan mengambil pelajaran berharga dari sejarah masa lalu, rasanya itulah yg terpenting. Dan penting juga menanamkan sejak dini  pada anak-anak kita agar dia  mencintai leluhurnya yg telah mempertahankan tanah air tercinta.  Memberikannya penjelasan agar dia tidak 'silau' atas segala sesuatu yang ada disini. Bahwa kita pernah dijajah Belanda dan Jepang. Kita tidak boleh jadi orang bodoh shg mudah dibohongi  oleh bangsa lain. Kita harus belajar dan berpikiran maju. Kita harus ganbatte (bersungguh-sungguh), begitu petuah saya pada si sulung.

Orang  Jepang, walau seusia Nimei-san yang hampir separuh abad, ternyata memang tidak tahu kalau bangsanya pernah menjajah bangsa kita. Mereka hanya tahu dari pelajaran sejarah bahwa  bangsa Jepang  mengajari  berperang (heiho=pelajaran keprajuritan) terhadap bangsa Indonesia. Itu pula yang disampaikan oleh ayah Iku-chan, volunteer japanese saya. Ayah Iku-chan adalah seorang pensiunan tentara Jepang. Tahun 1940-an ayahnya pernah menginjakkan kaki di Indonesia tepatnya di Surabaya dan Palembang.

Duuh....jadi begitu ya ceritanya, pantas saja temen-temen lab ayahnya Izza juga terkaget-kaget ketika tahu bahwa leluhurnya pernah menjajah bangsa kita.  Saya jadi mengerti bahwa  sejarah memang dibuat atas kepentingan penguasa saat itu. Wajar jika mereka tidak tahu betapa leluhurnya telah menjajah selama 3,5 tahun. Mereka tidak tahu ttg romusha, pengerukan kekayaan alam indonesia, warga sipil yg jadi korban tentara Jepang, geisha dll.

by : http://anibowo.multiply.com/



10 comments:

' Titi Leksono' said...

Makasih mbak Ani, udah ngijinkan saya men-transfer tulisan mbak!!

Hasna Diana Nurrahmannisa said...

kadang dalam situasi tertentu, memang harus bisa dibedakan ya mba? antara pemerintah Jepang dengan rakyat Jepang.. sebagaimana USA yang menjajah Iraq.. itu adalah kebijakan pemerintahnya.. bahkan rakyatnya pun banyak yang memprotesnya.. kita membenci kebijakan pemerintahannya, namun jangan sampai itu menjadikan kita membenci rakyatnya..

NN AB said...

ahh pantesan kok rasanya pernah baca tulisan ini gitu....*_*

' Titi Leksono' said...

iya bener mbak Diana, kita memang harus arif dalam hal ini.

' Titi Leksono' said...

he..he...he mbak nonong ...sorry ya...

' Titi Leksono' said...

ngapain mbak Ani?

Yuli Nava said...

Kejadian yang sama tapi berbeda penuturan sejarahnya ya.... kalo buat Indonesia, jelas itu penjajahan, tapi menurut versi Jepang itu "mengajari berperang".
Anyway, memang benar ya mbak, kita harus arif membedakan mana kebijakan pemerintah mereka dan mana yang rakyatnya....

' Titi Leksono' said...

bener...bener!!!

Yayan a.k.a Fathin said...

jugun ianfu...

kata guru2, walau cuma 3,5 tahun, Jepang lebih kejam seperti sudah menjajah ribuan tahun.

' Titi Leksono' said...

tapi memang siapa sih yang mau sejarah buruknya diketahui...